name="movie" name="quality" name="allowScriptAccess"

Minggu, 04 Juli 2010

Koleksi Batik Terbaru Ramli


Dalam pagelaran busananya kali ini, desainer Ramli membagi 3 babak pagelarannya. Pertama, beliau menghadirkan koleksi kebaya siap pakai yang merupakan hasil para pengrajin binaan Ramli yang berasal dari Jakarta (Betawi), Lampung, dan Jawa. Di babak kedua, dihadirkan koleksi batik Papua dan motif-motifnya yang unik, serta batik Sampang dari Madura dengan warna-warna cerah dan mencoloknya yang khas. Terakhir, desainer ini menampilkan koleksi busana muslimnya yang bernuansa hitam dan putih.

Busana laki-laki dan perempuan dengan corak batif khas Madura dan Betawi yang kaya warna kerap berlenggak-lenggok meramaikan catwalk yang disaksikan para penggemarnya. Ditambah dengan aneka motif khas betawi yang di padukan dengan motif bunga yang cantik turut tercipta. Pemakaian kain sarung, selendang dan kemeja batik mengisi peragaan busana kala itu. Penonton yang hadir pun akhirnya berdecak-kagum.

Koleksi Ramli kali ini berasal dari bahan material batik ATBM, sutra tulis, yang bekerjasama dengan para pengrajin batik. Ramli ingin menciptakan desain yang semua orang mau dan nyaman saat mengenakannya. Jadi wajar saja jika koleksinya didominasi dengan batik klasik Jogja Solo. Baginya, Batik tidak harus selalu glamor. Dengan kata lain, batik juga bisa bersifat kasual. Dapat dipakai dalam desain apapun. Oleh karena itu, para perancang harus pintar memilih motif dan corak yang sesuai, contohnya, jika selama ini batik sudah biasa didesain menjadi kemeja, tetapi kali ini dibuat dengan tampilan berbeda, yaitu berupa jaket. Hmm, modifikasi yang menarik, bukan…?

Bagi Ramli, batik adalah busana khas Indonesia yang sangat mengikuti tren mode. Di tangan seorang desainer ternama Ramli, semua jenis batik khas Indonesia akan menjadi busana ready to wear elegan. Dengan sentuhan tangan dingin dan kepekaanya terhadap motif yang baik untuk batik, Ramli menjadikan batik sebagai busana klasik yang sangat berharga.

Untuk rangkaian busana muslimnya , Ramli menggarapnya dengan sentuhan yang sangat sederhana. Kain berbahan dasar katun warna putih model tunik yang dikombinasikan dengan abaya sehingga bisa dipadupadankan ini membuat busana muslimnya tampak senantiasa menarik untuk dikenakan pada saat hari raya Idul Fitri 1 syawal 1430 H.

Bagaimana, tertarik dengan koleksi batik dan busana muslim ala Ramli…? Siapkan budget sekitar Rp1,5-Rp5 juta untuk pakaian muslim dan Rp1-Rp7 juta untuk batiknya. (*)

Ramli Angkat Batik Jadi Busana Kasual Eksotis

ramli

Selain memadukannya dengan kebaya, Ramli juga memadukan unsur batik dengan celana berpotongan longgar dan blus serta gaun untuk kesan lebih modern dan global. Sedangkan untuk bahan, koleksi yang diberi tema “BatikIndonesia” ini mengunakan sutera, organdi dan katun.

ramli


Foto: Vibizlife/ Hestianingsih

Rancangan Busana Batik Terbaru dari Ramli

ramli

Batik sebagai kekayaan budaya Indonesia memiliki ragam corak dan pesona yang berbeda-beda, menurut daerah asal batik itu dibuat. Kita mengenal batikJogjakarta, batik Solo, hingga batik Pekalongan yang dapat dibedakan dari teknik pewarnaan, pola dan coraknya.


Dalam peragaan busana yang diselenggarakan beberapa waktu lalu di GrandIndonesia, Jakarta, desainer Ramli memamerkan koleksi batik terbarunya yang mengkhususkan pada batik Madura, Betawi, Cirebon dan Bengkulu.

ramli

Berbeda dengan batik Jawa yang lebih banyak menampilkan motif parang dan bunga, batik-batik yang dihadirkan Ramli didominasi motif topeng dan ondel-ondel yang khas Betawi, serta corak bernuansa bunga pada batik Madura.

Cuatkan Batik dan Busana Muslim


Kali ini Widhi berusaha tampil beda meski tak menghilangkan cirri khas desain bajunya yang selalu tampil dalam warna feminine sehingga mengesankan keanggunan pada sang penggunanya. Namun, sesuai dengan tema yang diusungnya yakni 'Emotion', Widhi mulai menunjukkan keberaniannya dalam hal detail warna maupun teknik drapery yang diaplikasikannya dalam koleksinya kali ini.

Perpaduan warna-warni cerah seperti hijau, jingga, merah muda, emas, ungu, hitam putih tampak anggun berpadu detail manik, bordir, bebatuan, korsase serta hiasan kepala yang dibuat secara khusus oleh Widhi guna mempermanis gaunnya. Bahan-bahan yang dikenakan Widhi juga masih berkisar antara taffeta, sutra, lace, sifon, tulle perancis serta organdi yang mampu mengeluarkan efek glamour pada penggunanya.

Sedangkan untuk style, Widhi memilih bentuk H-line dress, babydoll, fit flare, tulip dress, volume dress, ballon dress serta celana, blus dan blazer androgini for any occasion. Tak luput pula beberapa kolesi bridal turut mewarnai pagelaran tunggal Widhi kali ini dengan detail sederhana serta warna putih sempurna.

Secara keseluruhan, koleksi Widhi kali ini memang lebih emosional dibanding desain rancangan Widhi pada umumnya yang biasa mengambil warna-warna kalem seperti pink, baby blue, white serta banyak didominasi oleh gaun panjang. Namun kini, tampak Widhi juga mulai berani menampilkan mini dress dengan potongan unik serta jahitan yang tak biasa tanpa meninggalkan kesan anggun yang menjadi ciri Widhi.

Rancangan pria kelahiran Semarang 23 Juli memang telah diakui dunia, hal ini terbukti pada saat ia mewakili Indonesia untuk International Apparel Foundation (IAF) World Young Designers Award di Istanbul, Turki pada tahun 1996. Di Jakarta sendiri, butik-butik Widhi tersebar di pusat perbelanjaan bergengsi seperti Plaza Senayan, Taman Anggrek, Grand Indonesia, Pasific Place serta Pasaraya Grande. (stans)


Batik Nusantara ala Ramli


Setelah menyelesaikan pendidikan modenya di London dan Kanada, Susan Budihardjo kembali ke Tanah Air tahun 1979. Awal karirnya di mulai dengan membuka studio kerja dan menjadi perancang mode sampai namanya kemudian dikenal luas dan memiliki tempat tersendiri dalam dunia mode di Indonesia.
Saat itu dunia mode kita baru tumbuh berkembang. Banyak bakat-bakat muda tertarik untuk menjadi perancang mode. Melihat banyaknya minat yang ingin terjun ke dunia rancang merancang, tercetuslah ide untuk mendirikan sekolah mode. Karena bagi Susan Budihardjo, pendidikan yang baik dan benar sangat menunjuang kreativitas seseorang dalam berkarya.
Di masa itu belum banyak sekolah mode berdiri. Kalau pun ada, sifatnya lebih sebagai kursus menjahit. Maka tahun 1980 Susan Budihardjo mendirikan Lembaga Pengajaran Tata Busana Susan Budihardjo. Tidak sedikit lulusan LPTB Susan Budiharjo kini telah menjadi desainer terkemuka. Beberapa di antaranya adalah Adrian Gan, Denny Wirawan, Didi Budiardjo, Eddy Betty, Irsan, Sebastian Gunawan, Sofie, Tri Handoko, Widhi Budimulia.
Setiap tahun sekolah mode ini mempersembahkan sebuah tema acuan untuk dikembangan para siswa. Di tahun 2009 pilihannya adalah ABOUT “GREEN”, yang menampilkan sebuah parade busana serba hijau sebagai karya akhir terbaik para siswa.
Kali ini LPTB Susan Budihardjo menawarkan tren baru, yaitu Green is the New Black, warna hijau merupakan warna hitam baru bagi dunia mode. Sebuah semangat dalam mengeksplorasi warna hijau seluas dan sebebas mungkin sebagai dasar mencipta rancangan busana. Pilihan tema ini ingin membuka mata penikmat mode tentang luwesnya warna hijau yang sebenarnya bisa dikombinasikan dengan segala warna, tergantung pada nada dan nuansa warna yang dipakai sebagai paduan.
Hasilnya, jangan bayangkan warna hijau hanya sebatas mengungkap kepedulian pada lingkungan atau dikenal dengan tema ekologi yang sudah banyak disajikan. Dengan warna hijau, bisa terbuka berbagai gaya tampilan yang begitu kaya rupa, mulai dari klasik, kontemporer, elegan dan funky, modern dan etnik, girlie dan dramatis, glamor dan kasual, feminin dan maskulin sampai vintage dan futuristis.
Hadirnya hijau sebagai warna primadona juga menyiratkan sebuah pesan. Bahwa pada warna hijau selalu terpancar seberkas titik harapan. Sebuah simbolisasi akan datangnya hal baru, karya baru, siswa baru yang diharapkan akan menggoreskan nama terkenal bagi dunia mode di Tanah Air pada masa depan.
LPTB Susan Budihardjo menyadari bahwa unsur inovasi akan membuat sebuah karya tampil menyita perhatian. Sebagai sebuah lembaga pendidikan di bidang mode, LPTB Susan Budihardjo merasa perlu untuk menawarkan hal baru, segar dan berbeda sebagai alternatif. Bahwa ada cara lain untuk menciptakan karya yang menarik lewat berbagai sudut pandang. Pemanfaatan warna hijau yang jarang diolah ini menjadi karya yang inspiratif menawarkan sebuah sajian mode yang segar.
Jenis rancangan lebih mengutamakan tipe busana siap pakai. Dalam perjalanan kreativitas saat mencipta, tidak semua siswa menampilkan gaya itu. Terlihat juga arah rancangan berkesan eksperimental untuk memperlihatkan kemampuan teknik yang luas. Semua itu merupakan sebuah kebebasan yang ditawarkan agar tercipta kreasi yang maksimal dan total.
Dalam segi presentasi, bentuk peragaan mencoba mempersembahkan gaya pertunjukan yang lebih profesional, baik dari segi koreografi, tata panggung, pilihan model dan durasi. Cara ini dilakukan dalam upaya untuk memperlihatkan profesionalisme lembaga pendidikan mode yang telah diakui reputasinya selama ini.
Peragaan menampilkan karya 63 siswa pilihan LPTB Susan Budihardjo Jakarta angkatan 2008. Masing-masing siswa menggelar 3 koleksi dengan tampilan total mulai busana, pelengkap busana sampai rias wajah dan tata rambut sesuai konsep berkarya masing-masing. Sebanyak 9 orang alumnus angkatan 2007, yang kini dapat dikatakan sebagai ‘pendatang baru’ dalam dunia mode, ikut mempersembahkan koleksi mereka dengan menggunakan bahan produksi Textile One Premium Choice.
Setelah digelar di Jakarta, koleksi ini juga akan diperagaan di kota-kota tempat cabang LPTB Susan Budihardjo berada, yaitu Semarang, Surabaya dan Denpasar.
Untuk memperkuat tema serba hijau dan menunjukkan kreativitas para siswa, di area foyer tempat acara berlangsung dipamerkan koleksi para siswa dalam bentuk busana miniatur yang dikenakan di atas patung torso mini hitam. (stans)

Ramli memamerkan koleksi busananya dalam tiga sekuen


“Aku pemimpi. Mimpiku penuh warna. Gaun-gaun ini adalah khayalan yang ada di dalam imajinasi ketika menyiapkan peragaan. Saat diwujudkan menjadi rancangan busana dan aku susun satu per satu menjadi sebuah koleksi, terlihatlah sebuah simfoni karya, bagaikan orkestrasi busana yang kaya rupa” ungkap Ivan Gunawan ketika ditanya seputar Fashion Show tunggalnya pada malam 17 November 2009 lalu.

Meski telah menggelar berbagai peragaan sejak ia membuka studio kerja di tahun 2004, pergelaran kali ini merupakan peragaan perdana dengan koleksi lebih lengkap. Sebuah persembahan bagi pecinta mode agar bisa menikmati karyanya secara lebih utuh.

Bila banyak orang masih mengenalnya dengan aktivitas yang ia jalani di luar dunia mode, hadirnya peragaan ini dijadikan momen berharga oleh Ivan Gunawan untuk menunjukkan eksistensi, konsistensi dan keseriusannya berkiprah di bidang mode. Tidak lain agar nama ivan gunawan lebih dikenal dan identik sebagai perancang busana dengan ciri khasnya, yaitu tampilan total yang memadu unsur warna berani, elegansi, sofistikasi dan glamoritas yang diperkaya dengan detil-detil atraktif.

Gaun elegan dan Sexy
Peragaan menampilkan 30 set rancangan dari dua merek busananya. Koleksi “Ivan Gunawan” menghadirkan gaun koktail dan gaun malam siap pakai eksklusif. Rancangan gaun pengantin yang ikut digelar merupakan kreasinya dari koleksi busana bermerek “Love”.

Untuk mencipta koleksi “Ivan Gunawan”, ia sangat terpikat pada kain tenun jacquard yang dijumpainya di Bangkok. Melihat keindahan komposisi warna, tekstur dan motif yang kaya ragam pada tekstil itu, imajinasi pun bangkit. Mengalirlah rangkaian busana yang mewah dan memesona.

Sebagai pecinta warna super cerah, Ivan gunawan bermain dalam palet warna-warni permata seperti fuchsia mencolok, biru azura, hijau limau sampai kuning matahari. Bahkan warna hitam tidak dibiarkan sendiri, melainkan berpasangan dengan biru malam, ungu terong, perak berkilau dan emas yang mewah.

Rok pensil berpotongan mini hadir sebagai primadona, diselingi celana panjang lurus dari tenun jacquard. Kombinasinya blus organsa dengan detil ruffles berlapis-lapis yang dramatis atau blus berlengan gelembung dengan kerut draperi yang cantik. Blus bluson yang menggelembung di pinggul dirancang memperkaya koleksi.

Menikmati rancangan Ivan Gunawan adalah menyaksikan kekuatannya dalam menata rancangan secara total look. Gambaran wanitanya kali ini tampil dalam tata lembut apik dengan riasan mata smokey, beranting besar, mengenakan rok ketat mewah yang dipadu blus cantik bervolume dan berdiri di atas sepatu bertumit tinggi. Sebuah konsep rancangan yang universal, elegan, mewah sekaligus sexy.

Gaun Pengantin Berdetil Baru
Untuk koleksi “Love” ivan gunawan menampilkan gaun pengantin dengan siluet beragam, mulai lebar, duyung dan ramping. Ia menawarkan detil baru yang berbeda dari pakem yang lazim dikenal.

Selain pilihan warna putih dan off white yang umum dipakai, Ivan Gunawan memperkenalkan gaun pengantin berwarna perak dan merah jambu bedak (dusty pink) yang merebut perhatian. Bros besar, korsase dan pita terlihat mempercantik rancangan, namun elemen tidak biasa disajikan sebagai daya tarik baru, seperti bulu dan permainan frilly yang disusun unik dan penuh drama. (stans)

Eksotisisme Batik Karya Ramli

B a t i k T u l i s

Colorful Batik Madura

BATIK Madura tak lagi asing terdengar di telinga. Bahkan salah satu kekayaan khasanah Indonesia ini telah beredar di beberapa belahan dunia. Performa batik asal pulau garam ini juga memiliki ciri khas yang membedakannya dengan batik dari daerah lain, seperti warna-warna cerah dan motifnya yang beragam menciptakan karakter masyarakat lokal.

“Batik Madura memiliki perbedaan warna dan motif dengan batik dari daerah lain. Warna batik Madura itu khas menggunakan warna-warna berani, mulai dari merah, hijau, kuning, dan biru,” ungkap Maimuna dari Pesona Batik Madura, ketika ditemui okezone dalam pameran yang diadakan di Belleza Permata Hijau, Jakarta Selatan, Kamis (21/2/2008).

Menurut perajin batik keturunan ke empat dari keluarganya itu, ciri khas batik pesisir dengan warna-warna berani dan corak bebas ini diproduksi dari daerah Bangkalan, Madura.

“Motif batik Madura berbeda karena pengaruh dari daerah pinggiran, yang biasanya ada gambar burung. Selain itu, batik Madura punya cerita masing-masing. Misal batik tipe Tasik Malaya merupakan penantian seorang istri menunggu suaminya. Ada juga cerita tentang panji suci, nyiur melambai, tar poteh yang punya latar putih bermakna sebagai kesucian seorang wanita. Dan cah keneh, yaitu perempuan cantik dari China,” jelas wanita keturunan Madura ini.

Menurut Maimuna, proses pembuatan batik itu meliputi beberapa tahap. Pertama, kain yang hendak digunakan terlebih dahulu direndam dalam air bercampur minyak dempel (istilah orang setempat) dan abu sisa pembakaran kayu dari tungku. Setelah direndam kemudian dicuci. “Biasanya kain yang digunakan adalah mentari sen atau kereta kencana,” ucap wanita ramah ini.

Setelah kering, sambungnya, proses selanjutnya adalah proses kanji lalu masuk pada tahap diisen, dikurik, dan ditembok. Kemudian dilanjutkan pada tahap pewarnaan yang dapat dilakukan berturut-turut, setelah itu kain batik dilorot. Proses ini merupakan usaha untuk menghilangkan malam (lilin) yang melekat pada kain, yaitu dengan memasukan kain ke dalam air mendidih. Terakhir, adalah menjemur di tengah terik sinar matahari.

“Proses pembuatannya memang lama. Hal dimaksudkan untuk mendapatkan warna kain yang pekat. Karena itu, warna kain Madura semakin pekat semakin bagus,” kata Maimuna.

Proses pembuatannya yang lama itu memang berimbas langsung pada harga kainnya menjadi lebih mahal. Meski demikian, Anda dapat memeroleh batik Madura mulai dari Rp50 ribu sampai Rp3,5 juta. Bagaimana, berani tampil dengan warna-warna cerah?